Hubungan Bilateral Indonesia dan Inggris: Prospek dan Tantangannya

Pada hari Selasa tanggal 6 maret lalu terjadi peristiwa yang cukup bersejarah bagi hubungan bilateral antara Republik Indonesia dan Kerajaan Inggris pada saat Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya, T.M. Hamzah Thayeb, menyerahkan surat kepercayaan (letter of credential) kepada Ratu Elizabeth II. Yang menjadikan peristiwa ini unik dari penyerahan surat kepercayaan sebelumnya dikarenakan  lebih dari 10 tahun yang lalu ayahanda Dubes Hamzah Thayeb yakni T.M. Hadi M. Thayeb menyerahkan surat kepercayaan sebagai dubes juga kepada Ratu Elizabeth II. Peristiwa ini menjadi bersejarah karena pertama kalinya bapak dan anak  dalam satu keluarga mewakili Indonesia sebagai Duta Besar di Kerajaan Inggris Raya.

Sebelumnya pada tanggal 23 Februari 2012 Presiden Susilo Bambang Yudhyono dalam pengarahannya di Rapat Kerja Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI dil luar negeri , menekankan bahwa pentingnya diplomasi di bidang ekonomi dalam konteks untuk mendatangkan investasi , meningkatkan ekspor dan memacu pendapatan devisa melalui pariwisata terkait kebijakan ekonomi pemerintah untuk terus menerus mendorong pertumbuhan ekonomi dan tantu saja diiringi dengan penciptaan lapangan pekerjaan.

Dubes Hamzah Thayeb sendiri sudah meyampaikan hal tersebut kepada Ratu Elizabeth II mengenai perlunya meningkatkan hubungan pada kedua negara pada tahap yang lebih konkrit yakni dalam bidang ekonomi.  Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan ekspor Indonesia ke inggris semenjak 2007 – 2011 terlihati peningkatan dari angka ekspor masih bisa ditingkatkan dimana peningkatan selama 4 tahun tersebut masih sebesar 4,35 % menjadi US $ 1,72 milyar sedangkan sebaliknya impor dari Inggris meningkat sebanyak 10,97% menjadi US $ 937,86 juta. Tentu merupakan tantangan tersendiri bagi KBRI London  – termasuk atase perdangangan –  untuk mencari peluang-peluang membuka pasar baru bagi produk-produk Indonesia terutama untuk sektor non-minyak dan gas.

Yang menarik apabila kita melihat sektor pariwisata maka dapat dilihat bahwa jumlah wisatawan Inggris yang berkunjung ke Indonesia ternyata merupakan tertinggi untuk wisatawan asal benua eropa . Menurut data Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif  dari tahun 2006 – 2011 jumlahnya meningkat dari dari 137 655 menjadi 192 355 wisatawan. Dengan melakukan koordinasi sumber daya terutama antara KBRI London dengan pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif diharapkan  kegiatan promosi  menjadi lebih besar, terencana, terkoordinir dan lebih fokus dan sesuai dengan target pasarnya. Untuk  daerah wisata  yang relatif terkenal  Bali Yogyakarta dan Lombok bisa ditawarkan paket wisata khusus dan unik terutama untuk wisatawan kelas menengah dan atas . Sedangkan wisatawan Inggris yang memiliki jiwa petualangan tinggi obyek wisata  Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan bisa menjadi salah satu alternatif tujuan wisata yang dapat ditawarkan.

Krisis Ekonomi Inggris dan Agenda Diplomasi Indonesia

Salah satu yang menjadi tantangan utama dalam upaya pemerintah Indonesia untuk mewujudkan diplomasi ekonomi  di Inggris adalah keadaan ekonomi Inggris yang sedang terpengaruh oleh krisis ekonomi regional eropa yang diawali oleh Yunani dan kemudian Italia. Akibatnya pemerintah Inggris dibawah Perdana Menteri David Cameron melakukan pemotongan pengeluaran pemerintah secara besar-besaran dan tentu saja salah satu alokasi yang diprioritaskan untuk dikurangi adalah bantuan Internasional. Salah satu yang menjadi berita besar adalah pengurangan alokasi dana dari Kementerian Luar negeri Inggris untuk program radio BBC world Service di tahun 2011 sebesar 16%, termasuk didalamnya BBC Indonesia.

Artinya, menjajaki kerjasama dengan pihak non-pemerintah seperti perusahaan, asosiasi bisnis menjadi lebih penting lagi bagi agenda diplomasi Indonesia di Inggris.  London sebagai salah satu pusat industri keuangan terkemuka di dunia tentu saja mencari alternatif  penanaman modal baru setelah Eropa dilanda krisis peluang untuk menanamkan portfolio investasinya di  negara berkembang yang tetap mengalami pertumbuhan ekonomi  diantaranya negara-negara di kawasan Asia. Dengan demikian  Indonesia diharapkan dapat bersaing dengan negara-negara berkembang yang sudah lebih dikenal seperti Cina dan India untuk mengundang investasi baik dalam bentuk  portfolio (Saham, obligasi, reksadana) maupun dalam bentuk penanaman modal langsung misalnya dalam bentuk pembangunan pabrik yang padat karya.

Selain itu,  bidang pendidikan dan kebudayaan juga banyak potensi yang bisa digali untuk kepentingan Indonesia di Inggris.  Pada Simposium Asia Tenggara di University of Oxford tanggal 10 -11 Maret 2012 oleh Project Southeast Asia ternyata Indonesia tetap menjadi obyek penelitian yang menarik dengan adanya 9 dari hasil penelitian terkait Indonesia serta 3 diantaranya dilakukan oleh mahasiswa doktoral asal Indonesia. Dalam rangka meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia tersedianya berbagi macam skema beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk melanjutan studi di luar luar negeri menjadi  penting. Skema beasiswa baru dilluar dari yang disediakan oleh baik pemerintah Inggris (chevening) atau Indonesia (Dikti, Kementrian lainnya) diharapkan dapat disediakan oleh Perusahaan swasta atau yayasan pendidikan berbasis di Inggris atau Indonesia.

Untuk bidang seni dan budaya,  komunitas Indonesia serta warga Inggris yang mempunyai minat budaya Indonesia dapat pula diberdayakan. Sebagai contoh School of Oriental & Africa Studies (SOAS) di London sering mengadakan pagelaran kesenian, begitu juga adanya kelompok  warga Inggris dan Indonesia yang tergabung dalam Oxford Gamelan Society yang bisa diajak kerjasama untuk bekerjasama oleh KBRI London sebagai perwujudan kontak langsung dengan warga Inggris untuk bersama-sama mempromosikan Indonesia.

Hubungan kedua negara sudah berjalan dengan sangat baik dan telah berlangsung lama. Bahkan bisa dikatakan Kontak formal pertama kedua negara tersebut dimulai pada 200 tahun yang lalu dimana warga Inggris Sir Tim Raffles datang dan diantaranya yang berinisiatif memulai proyek renovasi candi Borobudur. Akhirnya, sebagai diplomat karir  dengan pengalaman yang panjang  tentunya  kita berharap agar Dubes Hamzah Thayeb dapat sukses menggali potensi-potensi kerjasama baru serta mendorong  agenda ekonomi , politik, keamanan, pendidikan serta kebudayaan  Indonesia agar dapat berhasil di perjuangkan di Inggris.

Vishnu Juwono adalah kandidat doktor untuk bidang sejarah internasional di London School of Economics and Politcal Science (LSE), London, Inggris.  Penulis dapat dihubungi di v.juwono@lse.ac.uk. Tulisan ini merupakan versi yang belum di edit dari artikel penulis yang dimuat di Harian Seputar Indonesia Tanggal  16 Maret 2012 dengan judul “Hubungan Bilateral Indonesia dan Inggris”

Leave a comment

Filed under Public Policy Issues

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s